Putri Citra Effendy.SE

Sabtu, 19 Mei 2012

PASAR BEBAS


Definisi Pasar Bebas adalah sebuah konsep ekonomi yang mengacu kepada penjualan produk antar negara tanpa pajak ekspor impor atau hambatan perdagangan lainnya. Perdagangan bebas juga dapat didefinisikan sebagai tidak adanya hambatan buatan (hambatan yang dibuat pemerintah) dalam perdagangan antar individual-individual dan perusahaan-perusahaan yang berada di negara yang berbeda. di mana seluruh keputusan ekonomi danaksi oleh individu yang berhubungan dengan uang, barang, dan jasa adalah sukarela, dan oleh karena itu tanpa maling. Ekonomi pasar bebas adalah ekonomi di mana pasar relatif bebas. Pasar bebas diadvokasikan oleh pengusul ekonomi liberalisme. Memperoleh barang yang tidak dapat diproduksi di negeri sendiri.
Banyak faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan hasil produksi di setiap negara. Faktor-faktor tersebut diantaranya : Kondisi geografi, iklim, tingkat penguasaan iptek dan lain-lain. Dengan adanya perdagangan internasional, setiap negara mampu memenuhi kebutuhan yang tidak diproduksi sendiri.

Memperoleh keuntungan dari spesialisasi. Sebab utama kegiatan perdagangan luar negeri adalah untuk memperoleh keuntungan yang diwujudkan oleh spesialisasi. Walaupun suatu negara dapat memproduksi suatu barang yang sama jenisnya dengan yang diproduksi oleh negara lain, tapi ada kalanya lebih baik apabila negara tersebut mengimpor barang tersebut dari luar negeri.

Gambaran Umum

Definisi pasar bebas yaitu perdagangan bebas yaitu sebuah konsep ekonomi yang mengacu kepada penjualan produk antar negara tanpa pajak ekspor impor atau hambatan perdagangan lainnya. Perdagangan bebas juga dapat didefinisikan sebagai tidak adanya hambatan buatan (hambatan yang dibuat pemerintah) dalam perdagangan antar individual-individual dan perusahaan-perusahaan yang berada di negara yang berbeda.

Istilah perdagangan bebas identik dengan adanya hubungan dagang antar Negara anggota maupun negara non-anggota. Dalam implementasinya perdagangan bebas harus memperhatikan beberapa aspek yang mempengaruhi yaitu mulai dengan meneliti mekanisme perdagangan, prinsip sentral dari keuntungan komparatif (comparative advantage), serta pro dan kontra di bidang tarif dan kuota, serta melihat bagaimana berbagai jenis mata uang atau valuta asing diperdagangkan berdasarkan kurs tukar valuta asing.

Perdagangan international sering dibatasi oleh berbagai pajak negara, biaya tambahan yang diterapkan pada barang ekspor impor, dan juga regulasi non tarif pada barang impor. Secara teori semula hambatan-hambatan inilah yang ditolak oleh perdagangan bebas. Namun dalam kenyataannya, perjanjian-perjanjian perdagangan yang didukung oleh penganut perdagangan bebas justru sebenarnya menciptakan hambatan baru kepada terciptanya pasar bebas. Perjanjian-perjanjian tersebut sering dikritik karena melindungi kepentingan perusahaan-perusahaan besar.



  sejarah pasar bebas

Sejarah perdagangan bebas internasional adalah sejarah pedagangan internasional yang memfokuskan dalam perdagangan dari pasar terbuka. Diketahui bahwa bermacam kebudayaan dalam perdagangan. Berdasarkan hal ini, secara teoritis nasionalisasi sebagai kebijakan dari perdagangan bebas akan menjadi mengunguntungkan ke Negara berkembang sepanjang waktu. Teori ini berkemban dalam masa modern nya dari kebudayaan komersi diinggris, dan lebih luas lagi eropa, sepanjang lima abad yang lalu.

Sebelum kemunculan perdagangan pasar bebas , dan berkelanjutan hal tersebut hari ini, kebijakan Merkantilisme dari eropa telah berkembang di tahun 1500. Ekonomi awal yang menolak merkantiisme adlaah david richardo dan adam smith. Ekonomi yang menganjurkan perdagangan bebas percaya kalau merupakan alas an mengapa bebearap kebudayaan secara ekonomis makmur.

Adam smith contohnyaa menunjukan kepada peningkatan perdagangan sebagai alasan berkembangnya kultur tidak hanya di Mediterania seperti Mesir, Yunani, dan Roma, tapi juga Bengal dan Tiongkok. Kemakmuan besar dari Belanda setelah menjatuhkan kekaisaran Spanyol, dan mendeklarasikan perdagangan bebas dan kebebasan berpikir, membuat pertentangan merkantilis/perdagangan bebas menjadi pernyataan paling penting dalam ekonomi untuk beberapa abad.



Ciri – Ciri Pasar Bebas

a. Mengurangi biaya untuk fasilitas dan pembangunan umum seperti dana umum pendidikan, kesehatan, penyediaan air bersih, dan pembangunan daerah secara umum harus dikurangi.

b. Pasar yang berkuasa, bukan pemerintah tau Negara yang membebaskan swasta dari peraturan kebijakan pemerintah, walaupun kegiatan swasta tersebut membawa dampak yang sangat buruk terhadap rakyat dan kehidupan kemayrakatan.

c. Privatisasi/swastanisasi dengan alas an untuk menignkatkan efektifitas dan efisiensi pelayana kepada rakyat, maka perusahaan milik Negara harus dijual, termasuk penjualan jenis-jenis usaha yang menyangkut hajat hidup orang banyak.

d. Mencabut peraturan yang mengganggu keuntungan ekonomi, harus dicabut atau sedikitnya dikurangi jumlahnya.

e. Pencabutan bantuan social bantuan Negara atau pemerintah untuk orang yang paling miskin harus dicabut.

f. monopoli teknologi penggunaan yang hanya dapat dikuasai dan di kelola oleh pemilik modal untuk memproduksi produk-produknya.

Dampak Negatif

a. Pasar dalam negri yang serbu pasar asing dengan kualitas dan harga yang beraing akan mendorong pengusaha dalam negri berpindah usaha dari produksi di berbagai sektr ekononmi menjadi importer atau pedagang saja.

b. Perana produksi terutama sector industry manufaktur dan UKM dalam pasar akan terpangkas dan digantikan import.

c. Karakter perekonomian dalam negri akan semakin tidak mandiri dan lemah dan segalanya tergantung pada pihak asing.

d. Sebuah produk asing terutama dari cina dapat mengakibatkan kehancuran sector-sektor ekonomi dalam negeri.

e. Jika didalam negri saja kalah bersaing bagaimana mungkin produk dalam negri mampu bersaing dengan asean.

Dampak Positif

a. memperkenalakan produk Indonesia ke luar negri.

b. Mewujudkan perekonomian yang teguh dalam jangka panjang.

c. devisa kuat kalau export lebih besar dari pada import.

d. Produsen dan konsumen mempunyai kebebassan dalam memilih kegiatan ekonomi yang di jalankan dan membeli produk.

e. Mudah mendapatkan barang dengan harga murah.

f. Pelaku kegiatan eknonmi diberi kebebasan untuk melakukan kegiatan ekonomi yang disukainya.

Hambatan perdagangan

Hambatan perdagangan adalah Regulasi atau peraturan pemerintah yang membatasi perdagangan bebas di Indonesia.

Bentuk-bentuk hambatan perdagangan antara lain :

a. Kuota,kuota membatasi banyak unit yang dapat di import untuk membatasi jumlah barang tersebut di pasar dan menaikan harga.

b. Tariff atau bea cukai adalah pajak produk import.

c. Subsidi, subsidi adalah bantuan pemerintah untuk produsen lkal. Subsidi dihasilkan dari pajak. Bentuk subsidi antara lain adlaah bantuan keungan, pinjaman dengan bunga rendah dan lain-lain.

d. Peraturan administrasi.

e. Muatan local.

f. Peraturan anti dumping.

Faktor–Faktor yang mempengaruhi Suatu Negara menjalankan pasar bebas

a. Keterbatasan konsumen yang memerlukan komoditi di dalam negri. Untuk itu perlu memasarkan keluar negri.

b. Tidak semua masyarakat suatu Negara bisa memenuhi kebutuhan komoditinya sehingga harus di lakukan import dari Negara lain.

c. Sebagai srana saling menjalin kerjasama dan pershabatan.

d. Secara ekonomis, perdagangan antara Negara akan menambah devisa.

e. Agar dapat mempelajari teknologi bagaimana memproduksi suatu barang ke Negara-negara maju.

Sikap Dunia Terhadap Perdagangan Bebas

Banyak ekonom yang berpendapat bahwa perdagangan bebas meningkatkan standar hidup melalui teori keuntungan komparatif dan ekonomi skala besar. Sebagian lain berpendapat bahwa perdagangan bebas memungkinkan negara maju untuk mengeksploitasi negara berkembang dan merusak industri lokal, dan juga membatasi standar kerja dan standar sosial. Sebaliknya pula, perdagangan bebas juga dianggap merugikan negara maju karena ia menyebabkan pekerjaan dari negara maju berpindah ke negara lain dan juga menimbulkan perlombaan serendah mungkin yang menyebabkan standar hidup dan keamanan yang lebih rendah. Perdagangan bebas dianggap mendorong negara-negara untuk bergantung satu sama lain, yang berarti memperkecil kemungkinan perang. Kawasan Pasifik, dan dunia pada umumnya, ternyata belum siap dengan sistem perdagangan bebas dalam arti yang sebenarnya.

Di Eropa semua sibuk dengan upaya memenuhi persyaratan Maastricht, dan banyak yang percaya bahwa perjalanan mereka masih jauh. Dalam praktek perdagangan bebas, AS sebenarnya juga tergolong macan kertas. Dari posisinya yang keras menuntut liberalisasi sektor pertanian, yang sangat ditentang oleh Eropa, mereka akhirnya tunduk juga pada UE.

Tapi, prinsip perdagangan bebas jelas dikorbankan, apapun alasannya. Sebenarnya, tekanan dalam negeri AS berada di belakang pelunakan sikap tersebut. Suatu pasal dalam undang undang pertanian AS yang dikeluarkan baru-baru ini dengan tegas menyebutkan bahwa “tidak semua sektor pertanian siap untuk masuk ke pasar bebas”. Di bidang jasapun sama saja. AS tidak berniat untuk menciptakan perdagangan bebas di sektor jasa, yang mereka inginkan hanya akses pasar yang lebih besar bagi industri jasa mereka. Lalu masih ada cerita lama tentang lobi buruh industri di AS yang terpukul oleh produk impor dari negara berkembang.

Amerika Latin mempunyai cerita yang tidak berbeda.
Walaupun sudah ada FTAA dan Mercosur, banyak negara anggota yang tidak terlalu bersemangat. Ambil contoh Brasil. Dengan defisit perdagangan yang makin besar, mudah dimengerti mengapa mereka cenderung menangguhkan ide pasar bebas. Satu per-satu negara di kawasan ini mulai memasuki masa sulit lagi setelah tanda tanda kebangkitan sempat muncul di awal tahun 1990an.

Di kawasan Asia Pasifik, pada awal 1990an semua bersemangat dengan perdagangan bebas, dan sejumlah statistik klasik selalu dipaparkan untuk menunjukkan dampak positif dari peningkatan perdagangan di kawasan ini. AFTA kemudian lahir. Namun, setelah banyak negara anggota mengalami kesulitan neraca pembayaran, tindakan mengurangi impor mulai diterapkan. Sekali lagi prinsip perdagangan bebas dikorbankan demi kepentingan nasional. Jadi, harus diakui dunia memang belum siap dengan sistem perdagangan bebas.

Apa peranan bangsa indonesia dan apa untung dan rugi bagi indonesia apabila telah dilaksanakan perdagangan bebas?

Untungnya, akan banyak barang2 impor yang masuk ke Indonesia dengan harga yang lebih murah sehingga masyarakat Indonesia akan dimanjakan dengan banyaknya barang2 impor berkualitas dari luar negeri dengan harga terjangkau dan murah karena tak ada lagi pajak impor.

Kerugiannya jauh lebih banyak, yaitu akan mematikan industri nasional yang kalah bersaing dengan produk2 asing yang lebih kompetitif dari segi kualitas& harga, masyarakat Indonesia akan menjadi masyarakat konsumen yang hanya gemar mengkonsumsi tetapi tidak mampu memproduksi, akan menjatuhkan ekonomi Indonesia karena banyak bisnis & perusahaan lokal yang bangkrut sehingga menyebabkan banyak PHK & pengangguran karena SDM lokal kalah bersaing dengan SDM asing.

Di tengah gempuran hebat produk China ke Tanah Air, Indonesia menegaskan tetap ikut memenuhi komitmen terlibat dalam Perjanjian Perdagangan Bebas ASEAN dan China mulai 1 Januari 2010. Itu berarti, pasar kita akan kian dikepung oleh produk China, baik tekstil, buah-buahan, bumbu masak, maupun mainan anak-anak.

Lalu, apa salahnya dengan produk China? Di sinilah persoalannya. Sudah bukan rahasia lagi.

Ø selama ini mutu produk China yang membanjiri pasar kita tidak jauh berbeda dengan produk dalam negeri, bahkan lebih buruk. Produk China juga masih diragukan keamanannya bagi kesehatan. Selain itu, barang dari ‘Negeri Tirai Bambu’ itu kelewat murah sehingga produk dalam negeri kalah bersaing dan akhirnya mati. Saat ini hampir semua jenis produk China melenggang bebas masuk ke negeri ini. Padahal, pada era 1970-an produk China yang diimpor hanya produk yang tidak bisa dibuat di Indonesia.

Ø Di negara maju seperti Australia saja, produk Cina masih dikenakan pembatasan Dengan demikian, perjanjian perdagangan bebas ASEAN-China amat jelas bakal lebih menguntungkan China daripada negara-negara ASEAN, dan sangat jelas terutama sangat merugikan Indonesia. Data resmi dari Badan Pusat Statistik tahun 2011 menunjukkan saat ini saja ekspor kita ke China hanya 8,55%, sedangkan impornya mencapai 11,37%. Merebaknya pesimisme itu lebih disebabkan belum mantapnya industri dalam negeri. Industri kita masih dibebani rupa-rupa masalah yang menyebabkan daya saing kita rendah. Infrastruktur yang buruk, suku bunga bank yang masih tinggi, kurs rupiah yang tidak stabil, serta birokrasi yang berbelit-belit dan korup, semua itu menyebabkan produk Indonesia tidak bisa berbicara banyak. Kita tidak punya basis yang kuat masuk ke pasar China. Kita juga tidak punya daya tahan yang hebat untuk membendung serbuan produk China.

Ø Sejujurnya Indonesia memaksakan diri masuk implementasi perdagangan bebas ASEAN-China. Belum terlambat bagi pemerintah untuk menegosiasikan kesepakatan itu. Dengan melihat masih compang-campingnya industri manufaktur kita, ada baiknya bila Indonesia menunda implementasi perdagangan bebas dengan China.



Referensi : Sukirno,sadono.mikro ekonomi.raja grafindo.jakarta.1994


1 komentar: